Jumat, 21 Oktober 2016

PUISI zizah_DO'A



DO’A

            Do’a
            Sebuah untaian yang bersumber dari qolbu
            Menenangkan hati
            Menentramkan jiwa
Membuka fikiran ke arah positif
Bagi setiap insan yang melakukannya

            Do’a
            Mampu menguatkan segalanya
            Mampu mengatasi segala problema kehidupan di dunia
            Baik , buruk tindakan seseorang
            Dapat teratasi jika insan mau memohon
Dan  menyembah kepada-Nya

Do’a
Yang mengubah segalanya
Dari hal yang tidak mungkin menjadi mungkin
Dari hal yang biasa menjadi sangat luar biasa
Menjadikan hidup ini lebih damai
Indah dan sejahtera

Do’a
Puncaknya keselamatan hidup
Puncaknya kebahagiaan di dunia dan di akhirat
Tanpa do’a seseorang tidak akan bisa mewujudkan apa-apa
Karena do’a merupakan wujud ketaqwaan kita
Bagi hamba-Nya kepada Yang Maha Pencipta


Antara Kopi dan Luka yang Kau Tinggalkan
            Di pagi yang cerah ini Aku dan temanku Widya namanya. Aku dan Widya sudah lama bersahabat sejak kita masih duduk di bangku SMA. Hingga sekarang kuliah pun bisa bersama lagi. Satu kosan namun tidak satu jurusan. Karena minat dan bakat kita berbeda-beda. Aku masuk jurusan Tarbiyah sedangkan Widya masuk jurusan Ekonomi Syariah.
Pagi ini kita akan pergi ke perpustakaan untuk belajar bersama, nyari buku bersama  untuk tugas awal masuk perkuliahan kita. Kebetulan awal perkuliahan ini begitu banyak tugas yang kita dapatkan. Ya maklum lah, namanya juga mahasiswa baru. Pasti banyak tugas. Kalau bukan mengerjakan tugas namanya bukan mahasiswa.
Aku sibuk nyari buku Ilmu Akhlak sementara Widya sibuk nyari buku Ekonomi Akuntasi. Setelah satu jaman ada di perpustakaan. Aku pun sudah menemukan bukunya lalu Aku menghampiri Widya yang ada di ruang SR.
“Eh Widya, kamu gimana sudah ketemu buku yang kamu cari?” Tanyaku.
“Sudah nih Des barusan Widya nemuin tiga buku referensi.” Jawabnya.
“Oh ya syukur deh kalau gitu.“ Ucapku sambil tersenyum.
“Ya Des, kamu sudah juga kan?” Tanya Widya.
“Sudah ko beresss.” Jawabku penuh senyum.
Buku pun selesai terpinjam. Aku dan Widya bergegas meninggalkan perpustakaan. Dan menuju ke kantin untuk makan siang. Sesampainya di kantin tiba-tiba ada salah satu pria yang tiba-tiba duduk di sekitar meja makan pesanan kita. Dan dia duduknya kok pas di depan arahku, sehingga bertatapan satu arah.
“Eeehhh,,,, siapa tuh Des depan kamu?” Tanyanya.
“Nggak tahu Wid, Aku saja nggak kenal.” Jawabku.
“Ya udah nggak usah diladenin.” Ucapnya.
“Eh jangan gitu, kali saja sekelas sama Aku atau kamu.” Ucapku sambil meyakinkannya.
”Ya bisa jadi sih Des.” Ucapnya.
“Kamu siapa bro?” Tanyaku penuh penasaran.
“Kenalin aku Riyan Jurusan Tarbiyah kelas A.” Jawabnya pria itu sambil memperkenalkan dirinya.
“Aku Desty Tarbiyah kelas A, sampingku Widya Ekonomi Syariah kelas B.” Sapaku sambil mengenalkan sahabatnya.
“Oh ya salam kenal juga ya, Desty, Widya.” Ucap Riyan.
“Ok sip!” Seruuku dan Widya.
“Eehhh,,,berarti Riyan sekelas dong sama Desty sahabatku. Cie-cie semoga berjodoh ya kalian.” Tanya Widya sembari bercanda meledek mereka.
“Ya kita sekelas Des. Hehehe Aminin saja deh! Ya nggak Des.” Ujar Riyan sembari tersenyum lebar menatapku.
“Ya udah mari kita mulai makan saja perut sudah lapar nih keroncongan...!” Ajakku.
“Hahaha ya Des.” Jawab Widya, Riyan sembari tertawa karena lapernya.
“Ya selamat  makan teman-teman.” Ucapku.
“Selamat makan juga..!” Seru Widya dan Riyan.
Makanpun usai, kita bertiga membayar makanan dan berjalan menuju parkiran untuk mengambil sepeda motor kita sementara Riyan mengambil mobilnya. Kemudian bergegas untuk pulang ke tujuan masing-masing. Karena jarak kampus kita menuju kosan lumayan jauh, sehingga tidak berlama-lama lagi untuk santai-santai di kampus. Hari pun mulai sore, sungguh tidak terasa sampai di rumah langit begitu petang.
            Adzan maghrib pun tiba. Kita berdua segera melaksanakan sholat berjamaah ke masjid. Usai sholat maghrib berjamaah kita mengaji lalu belajar. Dan setelah selesai, tiba-tiba handphone ku bunyi nyaring.
“Ting...tung...ting...ting...ting...” Berkali-kali bunyi.
Aku melihat di layar sentuh bagian depan selulerku, dan bertuliskan Riyan mengcallingku. Aku pun segera mengangkatnya siapa tahu penting.
“Hallo Des, selamat malam lagi ngapain? Ganggu nggak nih?” Tanyanya di telfon.
“Ya hallo, malam juga Riyan. Lagi duduk saja nih. Baru selesai belajar juga.” Jawabku.
“Wah rajin banget ya kamu. Berarti Riyan ganggu dong tadi.” Ucap Riyan, agak sedikit merasa bersalah.
“Nggak ko Yan, santai saja! Kebetulan tadi pas handphone bunyi Aku sudah selesai belajar.” Jawabku.
“Oh ya syukur deh kalau gitu.” Jawabnya.
“Oh ya, besok kamu ada acara nggak?” Aku mau ngajak kamu jalan, kalau kamu mau sih...?” Ajaknya sembari mencoba merayu.
“Hemmm,, kayanya sih nggak ada. Minggu aku free. Boleh deh, Yan. Asal pulangnya jangan sampai malam ya, takut dan nggak enak dilihat tetangga komplek sini.” Ucapku dengan disertai alasan demi menjaga nama baiknya.
“Ok deh Desty cantik. Sampai ketemu besok sore ya, besok aku jemput kamu deh! Bye cantik. See you tomorrow!” Seru Riyan sambil menggoda dan penuh semangat.
“Ya Riyan. Bye too, see you tomorrow too.” Jawabku dengan singkat.
            Akhirnya mereka berdua menutup telfonnya. Dan hari sudah mulai gelap, bintang-bintang bertaburan dan bulan yang terang itu nampak sedikit cahaya yang menyinarinya pada dinginnya malam ini. Aku segera sholat Isya lalu tidur. Sementara temannya, Widya sudah tertidur duluan.
Hari ini hari minggu tepat pukul 15.00 WIB, setelah Aku selesai menunaikan sholat Ashar. Dan seperti janji kemarin Riyan akan menjemputku untuk mengajak jalan sore ini. Tidak lama kemudian Riyan datang menghampiriku.
“Haii, Desty cantik sudah siap? Subhanallah, kamu cantik sekali dan terlihat manis banget pakai cardigan pink itu.” Sapanya sembari terbiasa menggoda.
“Hai juga. Ah kamu bisa saja! Sudah siap mas Riyan ketua kelasku.” Jawabku berbalik balas candanya.
“Ah jangan ketua kelas dong, kan ini di luar kampus. Pangeranku saja..hahaha” Ujarnya bercanda penuh konyol.
“Ya deh, kamu bawel banget pangeranku.” Ucapku simpel.
“Nah gitu dong ayok masuk mobil, nanti keburu kesorean.” Ajaknya.
“Baiklah pangeran.” Jawabku penuh tersenyum.
            Kami berdua pun meninggalkan kosan itu. Dan menuju ke salah satu Cafe Coffee Drink Orange Kota Batang. Yang mana di dalam cafe itu bangunannya bernuansa orange sehingga dijuluki “Orange”.
“Kamu mau pesan apa Des?” Tanya Riyan.
“Aku samaan kamu saja deh.” Jawabku sangat simpel.
“Ok deh! Coffee Drink Spesial Mix saja ya.” Ucap Riyan.
“Ya Riyan....” Ucapku sambil senyum.
            Sambil menunggu pesenan coffee datang kita duduk-duduk sambil bercanda satu sama lain saling tersenyum dan menatap satu arah. Kita berdua padahal baru kenal empat bulan yang lalu, tapi sudah seperti saudara yang sudah tinggal bersama. Rukun satu sama lain, dan saling ngertiin satu sama lain.
            Coffee pun datang, kita berdua segera meminumnya dengan penuh hangat sehangat suasana kita berdua. Namun rasa coffee ini jauh lebih enak dari coffee dulu yang pernah Aku temui. Dulu begitu pahit sepahit cintaku yang pernah Aku rasakan saat punya kekasih pertamaku di Coffee Drink semacam ini. Hanya saja beda tempat dan beda menu-menunya.
            Setelah satu jam lamanya Aku dan Riyan menikmati secangkir coffee drink ini, tiba-tiba Riyan menanyakan sesuatu kepadaku.
“Des, aku boleh tanya. Tapi kamu jangan marah ya.” Tanya Riyan sedikit ragu.
“Loh marah kenapa tinggal tanya saja.” Aku bukan tipe cewek pemarah ko.” Ucapku dengan santai.
“Baiklah, akan aku katakan sekarang. Apa kamu sudah punya pacar Des? Jujur ya Des, aku sayang sama kamu Des, aku ingin kamu jadi pacarku, sekaligus calon istriku kelak. Aku  sudah ada rasa sejak kita pertama ketemu. Saat kita lagi makan di kantin yang dulu itu Des.. “Ucapnya sangat polos dan jujur.
“Aku masih sendiri Yan. Kamu serius ngomong gitu? Nggak salah? Aku ngga mau masa laluku terulang lagi. Dengan rayuan belaka, dan janji-janji palsu yang hanya menyisihkan luka di hati Aku!” Jawabku dengan memberikan penjelasannya.
“Aku serius Des, aku tulus sayang sama kamu. Aku akan jaga hati ini dan setia sama kamu. Aku janji akan selalu menyayangimu, dan menjagamu. Kalau Aku mengkhianatinya, kamu boleh melakukan apapun yang kamu inginkan kepadaku.” Ucapnya dengan janji-janjinya.
“Ok, Yan aku pegang janjimu. Kalau kamu mengingkarinya Aku akan meninggalkanmu dan melupakanmu untuk selamanya. Kamu juga jangan pernah menghubungiku lagi! Aku harap kamu ngerti itu!” Ucapku dengan tegas.
“Ya Des, jadi gimana? Kamu mau terima jadi kekasih dan calon isteriku?“ Riyan mengulangi pertanyaannya.
“Ya, Riyan Aku mau jadi kekasih sekaligus calon isterimu.” Jawabku penuh tersenyum manis.
“Makasih sayang, kamu sudah mau terima dan mempercayaiku, “I Love You, sayangku Desty. Aku harap kamu bisa mengerti satu sama lain, saling percaya, bisa setia dan tidak ada rahasia diantara kita.
“Ya sayang, sama-sama. “I Love You Too.” Kamu juga ya jaga hati buat Aku, setia, saling mengerti, saling percaya dan terbuka selalu diantara kita berdua.” Ucapku penuh terharu.
“Pasti sayang......” Sambung Riyan penuh senyuman manisnya.
            Akhirnya Aku dan Riyan jadian di tempat Cafe Coffee Drink ini, tempat dimana kita saling bercanda sharing satu sama lain ketika di hari libur. Kini akhirnya tempat ini jadi tempat favorit tongkrongan kita berdua. Setelah coffee habis diminum, dan kita sepertinya sudah sangat lelah. Aku dan Riyan cepat ke kasir untuk membayar menu pesanannya, lalu pergi meninggalkan Cafe Coffee Drink itu dan naik mobil untuk pulang. Karena langit sudah sangat gelap menjelang maghrib.
“Sayang, aku anterin sampai depan kosan ya?“ Tanya Riyan sambil mengendarai mobilnya.
“Boleh deh sayang. Makasih ya untuk waktunya hari ini.” Ucapku tersenyum dan merasa berterima kasih.
“Sama-sama sayang. Eeeh nggak terasa sudah sampai depan kosan sayang tercinta nih...! Hehehe...” Seru Riyan sembari menggoda dan tertawa.
“Ok sayang. Aku masuk kos ya. Kamu hati-hati di jalan, nggak usah ngebut. Yang penting selamat.” Ucapku sembari menasehati.
“Pasti sayang, makasih sudah ingatkan. Aku pulang ya, bye-bye sayang. Sampai ketemu besok di kampus.”Ucap Riyan sembari pamitan pulang.
“Ya Riyan sayang.....”Jawabku dengan singkat.
            Akhirnya Aku kembali ke kosan Riyan pacarku pulang ke rumah. Aku sampai kosan tepat pukul 18.00. WIB. Sedangkan Riyan tiba di rumah pukul 19.30 WIB. Karena rumah Riyan jauh meski menempuh jarak satu jam lebih dari kosanku menuju rumah Riyan. Tapi hal itu baginya tidak masalah, karena Riyan sangat peduli dan mengerti sehingga rela sampai rumah pulang malam. Demi buat Aku seorang.
            Pagi harinya Aku mulai berangkat ke kampus. Kebetulan hari ini hanya ada satu mata kuliah saja, sehingga Aku pun bisa pulang cepat. Saat Aku hendak menuju parkiran tiba-tiba melihat sosok pria yang sedang berduaan sambil bergurau sama seorang wanita di taman kampus, dari arahku sekitar 7 meter. Aku pun pura-pura sedikit mengalihkan pandanganku terhadap mereka. Agar mereka tidak curiga.
Hampir setengah jam aku berada di taman itu. Dan mereka sudah pada pulang. Akhirnya aku pun pulang juga menuju kosan. Aku coba menghubungi Riyan tapi tidak aktif. Aku coba mengulang-ulang panggilan itu namun tidak ada respon sama sekali. Entah dia sedang apa dan sama siapa, biasanya tiap kali mau berangkat ataupun selesai kuliah selalu kasih kabar ke Aku tapi kali ini tidak. Rasanya seperti ada yang mengganjal.
            Aku masih curiga sama sosok pria tadi yang sedang berduaan sama wanita yang ada di taman kampus itu. “Apa mungkin dia Riyan?” Batinku berkata.
“Lalu siapa wanita itu?” Ah,,, sudahlah lebih baik Aku sms Widya untuk memastikan apakah Riyan ke kosan ku atau tidak.”Batinku berkata penuh curiga lagi.
Maaf Wid, ganggu. Apa kamu sudah pulang ke kosan? Lalu apa Riyan main ke kosan?” Tulisku dalam pesan singkat.
Pesan pun terkirim tapi Widya nggak bales-bales sms ku juga. Hatiku gundah, cemas, tak tenang. Lalu segera diambilnya air wudhu untuk menunaikan sholat Dhuhur. Usai itu segeralah aku mengaji agar hati menjadi tenang. Dan tidak lama kemudian Riyan memanggilku dalam sebuah ponselnya.
“Hallo sayang, kamu lagi apa? Sudah makan belum?” Tanyanya.
“Tiduran saja, sudah.” Jawabku cuek dan singkat.
“Ko cuek gitu sayang?” Tanyanya lagi.
“Kamu nggak usah bohong sama aku Yan? Dari tadi kamu kemana aja? Ditelfon berkali-kali tidak ada jawaban. Sungguh menyebalkan kamu Yan!!!” Jawabku mulai kesal.
Aku segera menutup telfonnya. Nggak peduli Riyan khawatir atau marah sama Aku sekarang. Atau khawatirin aku aau tidak. Karena yang jelas Aku sangat kesal padanya. Sepertinya dia mulai nggak terbuka dan berbohong kepadaku.
            Pukul 15.00 WIB, waktu ashar tiba dan Widya baru sampai ke kosan. Lalu Aku menanyakan sesuatu kepadanya.
“Kamu dari mana saja Wid? Kenapa jam segini baru pulang? Dan kenapa tadi Aku sms kamu tidak kamu balas?” Tanyaku agak curiga.
“Ehmm,,,itu, itu..” Jawabnya sangat gugup.
“Kenapa kamu gugup? Kamu bohong juga sama Aku? Sahabat kamu sendiri!” Tanyaku kesal lagi.
“Ohh,,,nggak,,nggak Des, maaf tadi Widya habis buru-buru keluar dari perpustakaan, sangkin penuhnya mahasiswa yang pinjam buku. Jadi agak gugup gini deh. Maaf ya Des..hehe” Jawab Widya yang terpaksa bohong demi menutupi keasalahan Riyan.
“Oh, gitu. Berarti tadi saat Aku sms kamu, kamu pulang kuliah langsung ke perpustakaan pinjam buku?” Tanyaku sedikit mulai percaya.
“Ya,,,,, sahabatku.” Jawab Widya dengan santai tanpa merasa bersalah.
“Hmmm... Soalnya ya Wid, Aku melihat orang mirip Riyan banget lagi berduaan sama sosok wanita di taman kampus. Kira-kira kamu tahu tidak?” Tanyaku penuh curiga.
“Oh,,,kalau masalah itu Widya nggak tahu Des. Mending kamu ajak Riyan ketemuan saja deh. Terus bicarakan baik-baik.” Jawab Widya.
“Kirain kamu tahu. Baiklah Wid.” Aku akan coba menelfon Riyan untuk ketemuan hari ini juga.” Ucapku sambil menerima saran Widya.
            Aku mulai mengambil ponselku dan mencoba menelfon Riyan. Untuk memastikan dan membicarakan tentang sosok wanita yang kemarin berduaan dan bergurau persis sama pria yang begitu mirip seperti Riyan.
“Hallo, Yan? Sore ini bisa ketemu ngga di tempat biasa?” Tanyaku di handpone.
“Ya sayang bisa ko.” Jawab Riyan.
“Ok deh, Aku tunggu. Aku mau bicara penting sama kamu.
            Sore harinya Aku dan Riyan sampai di Cafe Coffee Drink ini. Aku dan Riyan biasa memesan menu favoritnya. Dan setelah coffee drink mix datang, kita meminumnya. Lalu Aku mulai berbicara dan menanyakannya pada Riyan.
“Yan, aku mohon kamu jawab jujur ya. Kamu jangan bohong sama Aku. Apa benar kemarin ada seorang pria berduaan di taman kampus sambil bergurau sama seorang wanita itu kamu?” Tanyaku dengan sedikit curiga.
“Apahh,,,,,kamu nuduh aku?!! Sayang, kamu ada-ada saja kalau bicara! Jelas-jelas kemarin aku pulang cepat nggak mampir-mampir apalagi bergurau di taman nggak penting banget. Kamu salah lihat kali, sayang.” Jawabnya dengan kaget, penuh emosi dan mengela.
“Aku nggak nuduh kamu sayang. Aku hanya tanya dan ingin memastikan saja. Benar atau tidaknya.” Jawabku dengan sabar menghadapinya.
“Bukan aku sayang. Aku kemarin pulang kuliah cepat. Nggak mampir-mampir.
“Kamu nggak percaya sama aku ya sudah terserah kamu.” Jawabnya dengan santai tanpa merasa bersalah.
“Ok, deh. Kali ini Aku percaya sama kamu. Mungkin penglihatanku salah. Habisnya dia mirip banget sama kamu sayang dari gerak-geriknya, juga mobil warnanya sama. “Ucapku mulai percaya.
“Sayangggg, dengar ya. Di dunia ini itu memang banyak kemiripan, apa lagi mobil. Mobil itu yang punya nggak cuma aku saja sayang. Di luar sana juga banyak yang punya merk mobil seperti yang aku punya. “ Jawabnya penuh alasan dan  berbohong lagi.
“Ya, ya deh. Ya Aku percaya banget sama kamu. Maafin aku ya kemarin sudah kesal dan sudah nanya gini sama kamu sayang. “ Ucapku sangat percaya sembari minta maaf.
“Ya, nggak apa-apa sayang itu wajar ko. Bukti kalau kamu itu sayang sama aku.” Jawab Riyan sembari tersenyum palsu berhasil membuatnya percaya lagi.
“Sudah yuks sayang pulang. Hari sudah mulai gelap. Sepertinya mau memasuki maghrib. Kan kamu juga bawa kendaraan sendiri, nanti kalau pulang kemaleman aku takut kamu kenapa-kenapa. ”Ajak Riyan penuh khawatir.
“Oh ya sudah ayo. Kamu hati-hati di jalan ya sayang.” Ucapku sembari biasa menasehati.
“Ya sayang, kamu juga hati-hati ya. Bye bye.  I Love You...” Ucap Riyan.
“Ya itu pasti. Bye-bye too and I Love You too.” Ucapku.
            Sesampainya di tujuan masing-masing. Aku pun mulai ngantuk dan segera ke kamar untuk tidur. Karena kamarku nggak sekamar sama Widya, sehingga Aku mau tidur duluan bebas tidak ada yang menggangguku. Sementara Riyan asyik sms-an sama Widya tanpa disadari Riyan, kalau Widya itu adalah sahabat dekatku sejak SMA.
From : Ryan
To : Widya.
“Hai Widya sweet, lagi apa say? Sudah tidur belum?”Pesan Riyan penuh menggoda.
Replay : “Hay juga Riyan handsome. Belum ini, masih tiduran saja, nungguin kamu sms, say. Hehe..”Balas Widya.
“Oh,,, iya kirain sweet sudah tidur. Ah,,, kangen ya sama Riyan?” Tanya Riyan lagi.
“Hehehe handsome bisa saja. Ya memang kangen sih sama kamu.”Jawab Widya.
“Hemm,,, kalau besok ketemu di Cafe Coffee Drink gimana say mau nggak?”Ajak Riyan.
“Ya boleh deh sayang, aku mau.”Jawab Widya.
“Oke deh siip sampai ketemu besok ya sayang...”Ucap Riyan sembari kirim emotika senyum dalam pesannya.
“Ya sayang...” Jawab Widya.
            Siang harinya, Riyan dan Widya ketemuan di Cafe favorit tempat dimana Aku dan Riyan menjalin asmaranya di situ. Mereka asyik berduaan sambil bergurau. Layaknya seperti seorang pasangan kekasih yang sudah jadian lama. Dan tiba-tiba Aku datang ke cafe itu, entah ada acara apa ko bisa berbarengan gini waktunya hingga aku memergoki Riyan dan Widya yang sedang berduaan di Cafe Coffee Drink ini.
“Oh, bagussss banget ya! Rupanya kamu selingkuh sama Widya, hingga kamu berkhianat. Kejam kamu Yan!“ Hebat! Benar-benar hebat sandiwaramu! Kamu dulu sudah berjanji akan setia padaku Yan. Tapi kamu ingkari semua ini, kamu munafik!!!” Ucapku sambil teriak emosi dan menangis histeris.
“Sayang,,, dengerin aku dulu. Ini nggak seperti yang kamu kira aku sama widya cuma teman dekat saja, kita nggak jadian. Ucap Riyan penuh shock melihat semua realita ini.
“Cukup! Kamu ngga perlu jelaskan semuanya! Aku sudah nggak percaya lagi sama kamu Yan! Lebih baik Aku pergi! “Dan kamu Widya, persahabatan kita cukup sampai di sini. Kalian berdua sama-sama membuat hati Aku sakit, seperti dicambuk hingga membuatku terluka. “Ucapku begitu sangat sedih dan masih terus menangis.
“Jangan sayang, aku mau kita kembali lagi seperti dulu. Kali ini aku sungguh menyesal. Dan aku juga benar-benar nggak tahu kalau kamu sahabatan sudah lama sama Widya. Maafkan aku sayang.”Ucap Riyan penuh penyesalan.
“Aku bisa maafin kamu. Tapi maaf Yan Aku nggak bisa kembali lagi. Sudah sangat sakit dan terluka hati Aku. Aku minta kamu jangan pernah menghubungiku lagi. Lupakan Aku dan lupakan semua kenangan kita yang ada di Cafe Coffee Drink ini. Selamat tinggal.” Ucapku sambil meneteskan air matanya lagi.
            Riyan pun mengalah dan tak bisa mengejarnya lagi. Karena nasi sudah menjadi bubur. Tidak akan bisa untuk memutar kembali waktu. Kini cinta mereka pupuslah sudah, terlupakanlah semuanya hingga tempat favorit dan kopi kesukaan mereka berdua hanya bisa tinggal kenangan. Riyan dan Widya pun kembali ke kehidupan mereka masing-masing.