Antara
Kopi dan Luka yang Kau Tinggalkan
Di pagi yang cerah ini Aku dan
temanku Widya namanya. Aku dan Widya sudah lama bersahabat sejak kita masih
duduk di bangku SMA. Hingga sekarang kuliah pun bisa bersama lagi. Satu kosan namun
tidak satu jurusan. Karena minat dan bakat kita berbeda-beda. Aku masuk jurusan
Tarbiyah sedangkan Widya masuk jurusan Ekonomi Syariah.
Pagi
ini kita akan pergi ke perpustakaan untuk belajar bersama, nyari buku
bersama untuk tugas awal masuk
perkuliahan kita. Kebetulan awal perkuliahan ini begitu banyak tugas yang kita
dapatkan. Ya maklum lah, namanya juga mahasiswa baru. Pasti banyak tugas. Kalau
bukan mengerjakan tugas namanya bukan mahasiswa.
Aku
sibuk nyari buku Ilmu Akhlak sementara Widya sibuk nyari buku Ekonomi Akuntasi.
Setelah satu jaman ada di perpustakaan. Aku pun sudah menemukan bukunya lalu
Aku menghampiri Widya yang ada di ruang SR.
“Eh
Widya, kamu gimana sudah ketemu buku yang kamu cari?” Tanyaku.
“Sudah
nih Des barusan Widya nemuin tiga buku referensi.” Jawabnya.
“Oh
ya syukur deh kalau gitu.“ Ucapku sambil tersenyum.
“Ya
Des, kamu sudah juga kan?” Tanya Widya.
“Sudah
ko beresss.” Jawabku penuh senyum.
Buku
pun selesai terpinjam. Aku dan Widya bergegas meninggalkan perpustakaan. Dan
menuju ke kantin untuk makan siang. Sesampainya di kantin tiba-tiba ada salah
satu pria yang tiba-tiba duduk di sekitar meja makan pesanan kita. Dan dia
duduknya kok pas di depan arahku, sehingga bertatapan satu arah.
“Eeehhh,,,,
siapa tuh Des depan kamu?” Tanyanya.
“Nggak
tahu Wid, Aku saja nggak kenal.” Jawabku.
“Ya
udah nggak usah diladenin.” Ucapnya.
“Eh
jangan gitu, kali saja sekelas sama Aku atau kamu.” Ucapku sambil
meyakinkannya.
”Ya
bisa jadi sih Des.” Ucapnya.
“Kamu
siapa bro?” Tanyaku penuh penasaran.
“Kenalin
aku Riyan Jurusan Tarbiyah kelas A.” Jawabnya pria itu sambil memperkenalkan
dirinya.
“Aku
Desty Tarbiyah kelas A, sampingku Widya Ekonomi Syariah kelas B.” Sapaku sambil
mengenalkan sahabatnya.
“Oh
ya salam kenal juga ya, Desty, Widya.” Ucap Riyan.
“Ok
sip!” Seruuku dan Widya.
“Eehhh,,,berarti
Riyan sekelas dong sama Desty sahabatku. Cie-cie semoga berjodoh ya kalian.”
Tanya Widya sembari bercanda meledek mereka.
“Ya
kita sekelas Des. Hehehe Aminin saja deh! Ya nggak Des.” Ujar Riyan sembari
tersenyum lebar menatapku.
“Ya
udah mari kita mulai makan saja perut sudah lapar nih keroncongan...!” Ajakku.
“Hahaha
ya Des.” Jawab Widya, Riyan sembari tertawa karena lapernya.
“Ya
selamat makan teman-teman.” Ucapku.
“Selamat
makan juga..!” Seru Widya dan Riyan.
Makanpun
usai, kita bertiga membayar makanan dan berjalan menuju parkiran untuk
mengambil sepeda motor kita sementara Riyan mengambil mobilnya. Kemudian
bergegas untuk pulang ke tujuan masing-masing. Karena jarak kampus kita menuju
kosan lumayan jauh, sehingga tidak berlama-lama lagi untuk santai-santai di
kampus. Hari pun mulai sore, sungguh tidak terasa sampai di rumah langit begitu
petang.
Adzan maghrib pun tiba. Kita berdua
segera melaksanakan sholat berjamaah ke masjid. Usai sholat maghrib berjamaah
kita mengaji lalu belajar. Dan setelah selesai, tiba-tiba handphone ku bunyi
nyaring.
“Ting...tung...ting...ting...ting...”
Berkali-kali bunyi.
Aku
melihat di layar sentuh bagian depan selulerku, dan bertuliskan Riyan
mengcallingku. Aku pun segera mengangkatnya siapa tahu penting.
“Hallo
Des, selamat malam lagi ngapain? Ganggu nggak nih?” Tanyanya di telfon.
“Ya
hallo, malam juga Riyan. Lagi duduk saja nih. Baru selesai belajar juga.”
Jawabku.
“Wah
rajin banget ya kamu. Berarti Riyan ganggu dong tadi.” Ucap Riyan, agak sedikit
merasa bersalah.
“Nggak
ko Yan, santai saja! Kebetulan tadi pas handphone bunyi Aku sudah selesai
belajar.” Jawabku.
“Oh
ya syukur deh kalau gitu.” Jawabnya.
“Oh
ya, besok kamu ada acara nggak?” Aku mau ngajak kamu jalan, kalau kamu mau
sih...?” Ajaknya sembari mencoba merayu.
“Hemmm,,
kayanya sih nggak ada. Minggu aku free. Boleh deh, Yan. Asal pulangnya jangan
sampai malam ya, takut dan nggak enak dilihat tetangga komplek sini.” Ucapku
dengan disertai alasan demi menjaga nama baiknya.
“Ok
deh Desty cantik. Sampai ketemu besok sore ya, besok aku jemput kamu deh! Bye
cantik. See you tomorrow!” Seru Riyan sambil menggoda dan penuh semangat.
“Ya
Riyan. Bye too, see you tomorrow too.” Jawabku dengan singkat.
Akhirnya mereka berdua menutup
telfonnya. Dan hari sudah mulai gelap, bintang-bintang bertaburan dan bulan
yang terang itu nampak sedikit cahaya yang menyinarinya pada dinginnya malam
ini. Aku segera sholat Isya lalu tidur. Sementara temannya, Widya sudah
tertidur duluan.
Hari
ini hari minggu tepat pukul 15.00 WIB, setelah Aku selesai menunaikan sholat
Ashar. Dan seperti janji kemarin Riyan akan menjemputku untuk mengajak jalan
sore ini. Tidak lama kemudian Riyan datang menghampiriku.
“Haii,
Desty cantik sudah siap? Subhanallah, kamu cantik sekali dan terlihat manis banget
pakai cardigan pink itu.” Sapanya sembari terbiasa menggoda.
“Hai
juga. Ah kamu bisa saja! Sudah siap mas Riyan ketua kelasku.” Jawabku berbalik
balas candanya.
“Ah
jangan ketua kelas dong, kan ini di luar kampus. Pangeranku saja..hahaha”
Ujarnya bercanda penuh konyol.
“Ya
deh, kamu bawel banget pangeranku.” Ucapku simpel.
“Nah
gitu dong ayok masuk mobil, nanti keburu kesorean.” Ajaknya.
“Baiklah
pangeran.” Jawabku penuh tersenyum.
Kami berdua pun meninggalkan kosan
itu. Dan menuju ke salah satu Cafe Coffee Drink Orange Kota Batang. Yang mana
di dalam cafe itu bangunannya bernuansa orange sehingga dijuluki “Orange”.
“Kamu
mau pesan apa Des?” Tanya Riyan.
“Aku
samaan kamu saja deh.” Jawabku sangat simpel.
“Ok
deh! Coffee Drink Spesial Mix saja ya.” Ucap Riyan.
“Ya
Riyan....” Ucapku sambil senyum.
Sambil menunggu pesenan coffee
datang kita duduk-duduk sambil bercanda satu sama lain saling tersenyum dan menatap
satu arah. Kita berdua padahal baru kenal empat bulan yang lalu, tapi sudah
seperti saudara yang sudah tinggal bersama. Rukun satu sama lain, dan saling
ngertiin satu sama lain.
Coffee pun datang, kita berdua
segera meminumnya dengan penuh hangat sehangat suasana kita berdua. Namun rasa coffee
ini jauh lebih enak dari coffee dulu yang pernah Aku temui. Dulu begitu pahit sepahit
cintaku yang pernah Aku rasakan saat punya kekasih pertamaku di Coffee Drink
semacam ini. Hanya saja beda tempat dan beda menu-menunya.
Setelah satu jam lamanya Aku dan Riyan
menikmati secangkir coffee drink ini, tiba-tiba Riyan menanyakan sesuatu
kepadaku.
“Des,
aku boleh tanya. Tapi kamu jangan marah ya.” Tanya Riyan sedikit ragu.
“Loh
marah kenapa tinggal tanya saja.” Aku bukan tipe cewek pemarah ko.” Ucapku
dengan santai.
“Baiklah,
akan aku katakan sekarang. Apa kamu sudah punya pacar Des? Jujur ya Des, aku
sayang sama kamu Des, aku ingin kamu jadi pacarku, sekaligus calon istriku
kelak. Aku sudah ada rasa sejak kita
pertama ketemu. Saat kita lagi makan di kantin yang dulu itu Des.. “Ucapnya
sangat polos dan jujur.
“Aku
masih sendiri Yan. Kamu serius ngomong gitu? Nggak salah? Aku ngga mau masa
laluku terulang lagi. Dengan rayuan belaka, dan janji-janji palsu yang hanya
menyisihkan luka di hati Aku!” Jawabku dengan memberikan penjelasannya.
“Aku
serius Des, aku tulus sayang sama kamu. Aku akan jaga hati ini dan setia sama
kamu. Aku janji akan selalu menyayangimu, dan menjagamu. Kalau Aku mengkhianatinya,
kamu boleh melakukan apapun yang kamu inginkan kepadaku.” Ucapnya dengan
janji-janjinya.
“Ok,
Yan aku pegang janjimu. Kalau kamu mengingkarinya Aku akan meninggalkanmu dan
melupakanmu untuk selamanya. Kamu juga jangan pernah menghubungiku lagi! Aku
harap kamu ngerti itu!” Ucapku dengan tegas.
“Ya
Des, jadi gimana? Kamu mau terima jadi kekasih dan calon isteriku?“ Riyan
mengulangi pertanyaannya.
“Ya,
Riyan Aku mau jadi kekasih sekaligus calon isterimu.” Jawabku penuh tersenyum
manis.
“Makasih
sayang, kamu sudah mau terima dan mempercayaiku, “I Love You, sayangku Desty. Aku
harap kamu bisa mengerti satu sama lain, saling percaya, bisa setia dan tidak
ada rahasia diantara kita.
“Ya
sayang, sama-sama. “I Love You Too.” Kamu juga ya jaga hati buat Aku, setia,
saling mengerti, saling percaya dan terbuka selalu diantara kita berdua.”
Ucapku penuh terharu.
“Pasti
sayang......” Sambung Riyan penuh senyuman manisnya.
Akhirnya Aku dan Riyan jadian di
tempat Cafe Coffee Drink ini, tempat dimana kita saling bercanda sharing satu
sama lain ketika di hari libur. Kini akhirnya tempat ini jadi tempat favorit
tongkrongan kita berdua. Setelah coffee habis diminum, dan kita sepertinya
sudah sangat lelah. Aku dan Riyan cepat ke kasir untuk membayar menu pesanannya,
lalu pergi meninggalkan Cafe Coffee Drink itu dan naik mobil untuk pulang.
Karena langit sudah sangat gelap menjelang maghrib.
“Sayang,
aku anterin sampai depan kosan ya?“ Tanya Riyan sambil mengendarai mobilnya.
“Boleh
deh sayang. Makasih ya untuk waktunya hari ini.” Ucapku tersenyum dan merasa
berterima kasih.
“Sama-sama
sayang. Eeeh nggak terasa sudah sampai depan kosan sayang tercinta nih...!
Hehehe...” Seru Riyan sembari menggoda dan tertawa.
“Ok
sayang. Aku masuk kos ya. Kamu hati-hati di jalan, nggak usah ngebut. Yang
penting selamat.” Ucapku sembari menasehati.
“Pasti
sayang, makasih sudah ingatkan. Aku pulang ya, bye-bye sayang. Sampai ketemu
besok di kampus.”Ucap Riyan sembari pamitan pulang.
“Ya
Riyan sayang.....”Jawabku dengan singkat.
Akhirnya Aku kembali ke kosan Riyan
pacarku pulang ke rumah. Aku sampai kosan tepat pukul 18.00. WIB. Sedangkan Riyan
tiba di rumah pukul 19.30 WIB. Karena rumah Riyan jauh meski menempuh jarak
satu jam lebih dari kosanku menuju rumah Riyan. Tapi hal itu baginya tidak
masalah, karena Riyan sangat peduli dan mengerti sehingga rela sampai rumah
pulang malam. Demi buat Aku seorang.
Pagi harinya Aku mulai berangkat ke
kampus. Kebetulan hari ini hanya ada satu mata kuliah saja, sehingga Aku pun
bisa pulang cepat. Saat Aku hendak menuju parkiran tiba-tiba melihat sosok pria
yang sedang berduaan sambil bergurau sama seorang wanita di taman kampus, dari
arahku sekitar 7 meter. Aku pun pura-pura sedikit mengalihkan pandanganku
terhadap mereka. Agar mereka tidak curiga.
Hampir
setengah jam aku berada di taman itu. Dan mereka sudah pada pulang. Akhirnya
aku pun pulang juga menuju kosan. Aku coba menghubungi Riyan tapi tidak aktif.
Aku coba mengulang-ulang panggilan itu namun tidak ada respon sama sekali.
Entah dia sedang apa dan sama siapa, biasanya tiap kali mau berangkat ataupun
selesai kuliah selalu kasih kabar ke Aku tapi kali ini tidak. Rasanya seperti
ada yang mengganjal.
Aku masih curiga sama sosok pria
tadi yang sedang berduaan sama wanita yang ada di taman kampus itu. “Apa
mungkin dia Riyan?” Batinku berkata.
“Lalu
siapa wanita itu?” Ah,,, sudahlah lebih baik Aku sms Widya untuk
memastikan apakah Riyan ke kosan ku atau tidak.”Batinku berkata penuh curiga
lagi.
“Maaf
Wid, ganggu. Apa kamu sudah pulang ke kosan? Lalu apa Riyan main ke kosan?”
Tulisku dalam pesan singkat.
Pesan
pun terkirim tapi Widya nggak bales-bales sms ku juga. Hatiku gundah, cemas,
tak tenang. Lalu segera diambilnya air wudhu untuk menunaikan sholat Dhuhur. Usai
itu segeralah aku mengaji agar hati menjadi tenang. Dan tidak lama kemudian
Riyan memanggilku dalam sebuah ponselnya.
“Hallo
sayang, kamu lagi apa? Sudah makan belum?” Tanyanya.
“Tiduran
saja, sudah.” Jawabku cuek dan singkat.
“Ko
cuek gitu sayang?” Tanyanya lagi.
“Kamu
nggak usah bohong sama aku Yan? Dari tadi kamu kemana aja? Ditelfon
berkali-kali tidak ada jawaban. Sungguh menyebalkan kamu Yan!!!” Jawabku mulai
kesal.
Aku
segera menutup telfonnya. Nggak peduli Riyan khawatir atau marah sama Aku
sekarang. Atau khawatirin aku aau tidak. Karena yang jelas Aku sangat kesal
padanya. Sepertinya dia mulai nggak terbuka dan berbohong kepadaku.
Pukul 15.00 WIB, waktu ashar tiba
dan Widya baru sampai ke kosan. Lalu Aku menanyakan sesuatu kepadanya.
“Kamu
dari mana saja Wid? Kenapa jam segini baru pulang? Dan kenapa tadi Aku sms kamu
tidak kamu balas?” Tanyaku agak curiga.
“Ehmm,,,itu,
itu..” Jawabnya sangat gugup.
“Kenapa
kamu gugup? Kamu bohong juga sama Aku? Sahabat kamu sendiri!” Tanyaku kesal
lagi.
“Ohh,,,nggak,,nggak
Des, maaf tadi Widya habis buru-buru keluar dari perpustakaan, sangkin penuhnya
mahasiswa yang pinjam buku. Jadi agak gugup gini deh. Maaf ya Des..hehe” Jawab
Widya yang terpaksa bohong demi menutupi keasalahan Riyan.
“Oh,
gitu. Berarti tadi saat Aku sms kamu, kamu pulang kuliah langsung ke perpustakaan
pinjam buku?” Tanyaku sedikit mulai percaya.
“Ya,,,,,
sahabatku.” Jawab Widya dengan santai tanpa merasa bersalah.
“Hmmm...
Soalnya ya Wid, Aku melihat orang mirip Riyan banget lagi berduaan sama sosok
wanita di taman kampus. Kira-kira kamu tahu tidak?” Tanyaku penuh curiga.
“Oh,,,kalau
masalah itu Widya nggak tahu Des. Mending kamu ajak Riyan ketemuan saja deh.
Terus bicarakan baik-baik.” Jawab Widya.
“Kirain
kamu tahu. Baiklah Wid.” Aku akan coba menelfon Riyan untuk ketemuan hari ini
juga.” Ucapku sambil menerima saran Widya.
Aku mulai mengambil ponselku dan
mencoba menelfon Riyan. Untuk memastikan dan membicarakan tentang sosok wanita
yang kemarin berduaan dan bergurau persis sama pria yang begitu mirip seperti
Riyan.
“Hallo,
Yan? Sore ini bisa ketemu ngga di tempat biasa?” Tanyaku di handpone.
“Ya
sayang bisa ko.” Jawab Riyan.
“Ok
deh, Aku tunggu. Aku mau bicara penting sama kamu.
Sore
harinya Aku dan Riyan sampai di Cafe Coffee Drink ini. Aku dan Riyan biasa
memesan menu favoritnya. Dan setelah coffee drink mix datang, kita meminumnya. Lalu
Aku mulai berbicara dan menanyakannya pada Riyan.
“Yan,
aku mohon kamu jawab jujur ya. Kamu jangan bohong sama Aku. Apa benar kemarin
ada seorang pria berduaan di taman kampus sambil bergurau sama seorang wanita
itu kamu?” Tanyaku dengan sedikit curiga.
“Apahh,,,,,kamu
nuduh aku?!! Sayang, kamu ada-ada saja kalau bicara! Jelas-jelas kemarin aku pulang
cepat nggak mampir-mampir apalagi bergurau di taman nggak penting banget. Kamu
salah lihat kali, sayang.” Jawabnya dengan kaget, penuh emosi dan mengela.
“Aku
nggak nuduh kamu sayang. Aku hanya tanya dan ingin memastikan saja. Benar atau
tidaknya.” Jawabku dengan sabar menghadapinya.
“Bukan
aku sayang. Aku kemarin pulang kuliah cepat. Nggak mampir-mampir.
“Kamu
nggak percaya sama aku ya sudah terserah kamu.” Jawabnya dengan santai tanpa
merasa bersalah.
“Ok,
deh. Kali ini Aku percaya sama kamu. Mungkin penglihatanku salah. Habisnya dia
mirip banget sama kamu sayang dari gerak-geriknya, juga mobil warnanya sama.
“Ucapku mulai percaya.
“Sayangggg,
dengar ya. Di dunia ini itu memang banyak kemiripan, apa lagi mobil. Mobil itu
yang punya nggak cuma aku saja sayang. Di luar sana juga banyak yang punya merk
mobil seperti yang aku punya. “ Jawabnya penuh alasan dan berbohong lagi.
“Ya,
ya deh. Ya Aku percaya banget sama kamu. Maafin aku ya kemarin sudah kesal dan
sudah nanya gini sama kamu sayang. “ Ucapku sangat percaya sembari minta maaf.
“Ya,
nggak apa-apa sayang itu wajar ko. Bukti kalau kamu itu sayang sama aku.” Jawab
Riyan sembari tersenyum palsu berhasil membuatnya percaya lagi.
“Sudah
yuks sayang pulang. Hari sudah mulai gelap. Sepertinya mau memasuki maghrib.
Kan kamu juga bawa kendaraan sendiri, nanti kalau pulang kemaleman aku takut
kamu kenapa-kenapa. ”Ajak Riyan penuh khawatir.
“Oh
ya sudah ayo. Kamu hati-hati di jalan ya sayang.” Ucapku sembari biasa
menasehati.
“Ya
sayang, kamu juga hati-hati ya. Bye bye.
I Love You...” Ucap Riyan.
“Ya
itu pasti. Bye-bye too and I Love You too.” Ucapku.
Sesampainya
di tujuan masing-masing. Aku pun mulai ngantuk dan segera ke kamar untuk tidur.
Karena kamarku nggak sekamar sama Widya, sehingga Aku mau tidur duluan bebas
tidak ada yang menggangguku. Sementara Riyan asyik sms-an sama Widya
tanpa disadari Riyan, kalau Widya itu adalah sahabat dekatku sejak SMA.
From
: Ryan
To
: Widya.
“Hai
Widya sweet, lagi apa say? Sudah tidur belum?”Pesan Riyan penuh menggoda.
Replay
: “Hay juga Riyan handsome. Belum ini, masih tiduran saja, nungguin kamu sms, say.
Hehe..”Balas Widya.
“Oh,,,
iya kirain sweet sudah tidur. Ah,,, kangen ya sama Riyan?” Tanya Riyan lagi.
“Hehehe
handsome bisa saja. Ya memang kangen sih sama kamu.”Jawab Widya.
“Hemm,,,
kalau besok ketemu di Cafe Coffee Drink gimana say mau nggak?”Ajak Riyan.
“Ya
boleh deh sayang, aku mau.”Jawab Widya.
“Oke
deh siip sampai ketemu besok ya sayang...”Ucap Riyan sembari kirim emotika
senyum dalam pesannya.
“Ya
sayang...” Jawab Widya.
Siang
harinya, Riyan dan Widya ketemuan di Cafe favorit tempat dimana Aku dan Riyan
menjalin asmaranya di situ. Mereka asyik berduaan sambil bergurau. Layaknya
seperti seorang pasangan kekasih yang sudah jadian lama. Dan tiba-tiba Aku
datang ke cafe itu, entah ada acara apa ko bisa berbarengan gini waktunya
hingga aku memergoki Riyan dan Widya yang sedang berduaan di Cafe Coffee Drink
ini.
“Oh,
bagussss banget ya! Rupanya kamu selingkuh sama Widya, hingga kamu berkhianat. Kejam
kamu Yan!“ Hebat! Benar-benar hebat sandiwaramu! Kamu dulu sudah berjanji akan
setia padaku Yan. Tapi kamu ingkari semua ini, kamu munafik!!!” Ucapku sambil teriak
emosi dan menangis histeris.
“Sayang,,,
dengerin aku dulu. Ini nggak seperti yang kamu kira aku sama widya cuma teman
dekat saja, kita nggak jadian. Ucap Riyan penuh shock melihat semua realita
ini.
“Cukup!
Kamu ngga perlu jelaskan semuanya! Aku sudah nggak percaya lagi sama kamu Yan!
Lebih baik Aku pergi! “Dan kamu Widya, persahabatan kita cukup sampai di sini.
Kalian berdua sama-sama membuat hati Aku sakit, seperti dicambuk hingga
membuatku terluka. “Ucapku begitu sangat sedih dan masih terus menangis.
“Jangan
sayang, aku mau kita kembali lagi seperti dulu. Kali ini aku sungguh menyesal. Dan
aku juga benar-benar nggak tahu kalau kamu sahabatan sudah lama sama Widya.
Maafkan aku sayang.”Ucap Riyan penuh penyesalan.
“Aku
bisa maafin kamu. Tapi maaf Yan Aku nggak bisa kembali lagi. Sudah sangat sakit
dan terluka hati Aku. Aku minta kamu jangan pernah menghubungiku lagi. Lupakan
Aku dan lupakan semua kenangan kita yang ada di Cafe Coffee Drink ini. Selamat
tinggal.” Ucapku sambil meneteskan air matanya lagi.
Riyan pun mengalah dan tak bisa
mengejarnya lagi. Karena nasi sudah menjadi bubur. Tidak akan bisa untuk
memutar kembali waktu. Kini cinta mereka pupuslah sudah, terlupakanlah semuanya
hingga tempat favorit dan kopi kesukaan mereka berdua hanya bisa tinggal
kenangan. Riyan dan Widya pun kembali ke kehidupan mereka masing-masing.